Postingan

Ramai

Ramai. Ruangan ini selalu ramai. Celoteh riang, obrolan ringan, wajah-wajah bahagia, meski kadang juga tampak lelah. Tawa lepas kadang-kadang terdengar, membuat kepala-kepala tertoleh mencari sumber suara. Meski tak ada sebetulnya yang merasa terganggu. Seruan-seruan sebal juga seringkali muncul, tapi itu justru symbol keceriaan, khas persahabatan yang solid.   Tatapan mereka hidup. Mata mereka berkilauan, seperti gugusan langit malam yang penuh bintang. Dari mata mereka aku tau, dunia mereka penuh warna.   Laksana ice cream, manis dan warna-warni. Ramai. Ini yang mereka sebut keramaian. Dia ada di antara mereka, didalam keramaian. Sendirian dalam makna hakikat, bukan harfiah. Matanya tidak berkilauan, mendung menggelayut di kedua matanya, tatapannya kelabu. Serupa ice cream yang mencair, tidak lagi menyenangkan menatapnya. Hitam putih diantara pelangi berkilauan. Desau angin bahkan terdengar merdu bagi dia yang merasa sendirian. Hatinya kosong, perasaannya usang. D...

Definisi Menulis

Senin kemarin-tidak benar-benar kemarin sebetulnya-salah satu agenda terjadwal sedang menanti saya. Agenda rutin komunitas yang mulai kembali berjalan setelah libur panjang semester lalu. Pertemuan kali ini adalah materi tentang bagaimana menulis essay, diisi oleh seseorang yang katakanlah cukup ahli dalam bidang essay dan karya tulis ilmiah-meski yang bersangkutan selalu menolak untuk dikatakan expert - to be honest, saya sangat excited untuk melahap materi ini, mengingat sudah lama sekali saya ingin menjadi penulis yang "serius", yang tidak hanya menulis fiksi tapi juga mampu menulis solusi. Materi kali itu diawali dengan sebuah pernyataan singkat dari Kak Pemateri, "Temukan definisi menulis bagi diri kalian, temukan untuk apa kalian menulis karena itu akan menjadi motivasi kalian dalam menulis. Bagi kakak pribadi menulis essay khususnya, adalah salah satu cara untuk jalan-jalan gratis, disamping tentu saja untuk menambah prestasi dan mengisi CV", -redaksinya mu...

Adik Rasa Kakak

Hari minggu kemarin, ditengah salah satu agenda terjadwal yang sedang saya ikuti.. disaat bahkan pematerinya masih bicara.. sekitaran jam 11 lewat, tiba-tiba saya teringat Abel, adek tertua saya yang tinggal terpisah kota. Saya teringat obrolan kami di telepon beberapa hari sebelumnya, Abel cerita bahwa hari minggu itu dia berangkat ke kota tempat saya tinggal untuk mengikuti salah satu event lomba yang diadakan salah satu sekolah menengah di kota yang saya tinggali. Detik itu saya mendadak teringat padanya, lantas bergegas mengirimkan sebuah sms singkat yang memastikan keberadaan Abel. Sms itu berbalas sebuah panggilan telepon setengah jam kemudian -ditengah berjamuran sosial media, saya dan adek justru memilih cara konvesional, sms-telpon-. Dari obrolan yang (juga) singkat ditelepon itu, disepakati bahwa saya akan nyusulin dia di sekolah yang dimaksud, ba'da zuhur berangkat. Abel adalah salah satu dari tiga adek saya yang semuanya laki-laki. Saat ini ia sedang menjejak kelas sa...

Nikmat

Akhir-akhir ini banyaaaaak sekali nikmat-nikmat yang rasanya kurang disyukuri. Keping-keping nikmat yang lupa dipeluk, cinta yang kurang disyukuri. Karena barangkali Allah tahu, hati kita masih dipenuhi urusan dunia... masih dipenuhi rasa baper dan galau tak berkesudahan.

Menghela Nafas

3 hari ini keadaan berbalik sudah, akhir pekan yang ku rencanakan akan indah malah berakhir berbeda. Banyak sekali hal yang membuatku menghela nafas lebih berat dan lebih panjang, sekelebat mata semua kejadian ini terjadi.. menyisakan sesak dan sakit yang tertahan. Ingin sekali menumpahkan segalanya pada blog ini, memeluk keping-keping hati. Tapi rasa-rasanya aku hanya mampu menghela nafas, lagi dan lagi. Menghalau sesak dan menyembuhkan sakit. "semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja"

Sunset & Rosie, sebelum review

Gambar
"Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegununungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi menyesakkan terlewati lagi; Malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan dan helaan nafas tertahan." Juga sesak yang menggenang :) --------------------------------------------------------------- Tulisan singkat sebelum review yang sebenarnya.

Bagaimana Rasanya?

Bagaimana rasanya kembali bicara padaku? Setelah sekian lama kita tak menyapa dan saling bertanya. Bagaimana rasanya kembali mendengar ceritaku? Mendengar aku yang memang tak bisa berhenti bicara dan bercerita, terlebih aku sudah lama tak punya teman bicara, tentu kau jadi pelampiasan yang pas. Bagaimana rasanya tertawa bersamaku lagi? :) Aku bahkan tak berani menebak bagaimana ekspresimu semalam, menatapku dengan tatapan dingin atau tertawa seadanya, atau malah tertawa lepas seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Butuh sebuah keberanian untuk kembali memulai bicara padamu, meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, sepertinya bahkan untuk menyapamu aku butuh keberanian lebih. Aku senang sekali semalam, seperti menemukan kembali teman lama ku yang hilang. Aku benar-benar menikmati obrolan ringan kita. Tapi, entahlah... Aku menangkap sesuatu yang aneh semalam, dari caramu bicara dan membalas pesan, dari kata-kata dan kalimat-kalimat milikkmu. Ada sesuatu yang ...