Postingan

Gibahin Orang sambil Cerita Keresahan

Sepagian ini sambil beberes saya dengerin satu podcast yang cukup menarik. Podcastnya suami istri paling hits sejagat twitter kali ya. Sabda PS dan Cania Citta. Sabda adalah founder platform belajar zenius.net, dan karena saya juga adalah salah satu alumni zenius, maka saya lebih mengenal beliau sebagai salah satu guru online saya. Sementara Cania Citta, adalah content creator channel youtube geolive. Channel yang banyak ngebahas politik, hukum, juga sosial. Mereka berdua ini, banyak dikenal sebagai orang orang pinter yang punya scientific mindset. Plus para libertarian sejati. Orang orang yang memperlakukan politik layaknya science dan itu menurut saya sih justru jadi bikin politik itu sendiri jadi terasa sebagai sebuah bidang ilmu bukan sekedar tempat bagi bagi kekuasaan aja haha. Tapi ya sekaligus membuat sebuah warna baru dalam perpolitikan. Buat yang penasaran siapa mereka, silahkan bisa di googling atau buka twitter mereka. Sabda, sebagai orang yang saya baca tulisan dan pemiki...

Jelajah #1 : Tarakan, Kalimatan Utara. (Pengalaman Debat Nasional Pertama)

Gambar
Pada bulan Maret 2019 lalu, Allah kasih saya nikmat menjelajah bumi-Nya. Mewujudkan impian kecill dan norak saya : kepingin pergi jauh. Jauhnya ga nanggung lagi, Kalimantan Utara. Memakan waktu nyaris hampir 5 jam (jika ditotal) melalui pesawat udara.   Semuanya atas satu tujuan mulia (halah) : ikut kompetisi debat nasional.  Semuanya bermula sederhana, pada akhir 2018  tidak ada angin tidak ada hujan saya menuliskan resolusi 2019 saya : ingin mencoba kompetisi debat. Waktu itu saya sangat buta dan ga tau sama sekali apa itu debat. Jangankan debat, dunia kompetisi ilmiah ini adalah hal yang sangat asing bagi saya. Diluar jangkauan. Seolah-olah dunia ini berada diseberang lautan sementara saya cuma batu di dasar laut. Keliatan debunya aja engga.  Maka, keinginan itu cuma harapan yang mungkin ga akan menemukan jalannya. Tetapi ya, kalau di khayalan saja saya tidak berani, bagaimana bisa berwujud. Awal   desember 2018 sebelum libur semester, sebenarnya Riswan...

Menghitung Nikmat Lewat Sholat

Plis jangan expect terlalu tinggi sama judulnya, ini hanya... cerita perjalanan singkat seorang anak manusia. Satu waktu, ketika umurku masih belasan, selepas sholat asar kalau tidak salah, aku tiba-tiba membenak. Udah berapa kali ya aku sholat seumur hidup? Dimana aja aku pernah sholat?. Sejak hari itu aku suka mengingat tempat-tempat dimana aku pernah sholat. Entah musholla kecil di pingggir jalan saat aku kesorean pulang atau masjid raya satu kota besar yang pernah ku datangi. Hari ini, selepas sholat ashar juga, aku tiba-tiba teringat dan merasa bersyukur, ternyata jalanku sudah cukup jauh. Tempat yang paling lekat dalam ingatan tentu saja rumah. Rumahku dan rumah nenek. Rumah panggung kayu berlantai papan yang tidak rapat. Aku masih ingat  sering menjatuhkan banyak barang lewat celah-celah papan itu. Pensil. Penghapus. Penggaris. Benang. Sisir. Kartu mainan bergambar power rangers. Orang-orangan dari kertas yang sering kami sebut "bp". Kulit jeruk. Tulang ikan wkkw....

The New Normal of Lebaran

*versi saia Lebaran tahun ini.... biasa aja. Biasa aja mungkin karena akhirnya kita paham bahwa "cukup" tuh ya cukup. Tanpa baju baru. Ga ada kue kue yang terlalu banyak. Berbagai jenis masakan yang dihangatin berhari-hari. Juga hebohnya ibu bersihin rumah kayak orang mau hajatan, yang ujung-ujungnya tetep neriakin saya yang lagi baca buku atau main game buat bantuin dia. Dan yang paling penting adalah, saya ga diusir dari rumah pas hari h lebaran karena disuruh main. Cuma dibilang "terserah". Daerah saya sebenarnya masih zona hijau. Masih alhamdulillah aman-aman aja dari pandemi. Tapi.. deket banget sama dua redzone. Prabumulih dan Palembang. Meskipun udah dibilang jangan mudik, perantau yang emang paling banyak dari daerah itu tetep aja ngeyel. Balik semua. Bikin saya dan keluarga agak waspada. Sebenarnya bagi saya pribadi, lebaran ini ya sama aja dari tahun sebelumnya. Ga ada yang terlalu beda. Mungkin yang sedikit beda adalah ibu yang lebih selo. Ga lebay ...

Sabtu Bersama Bapak, Sebuah Review

Sabtu Bersama Bapak merupakan novel best seller karya Adhitya Mulya. Buku ini juga sudah di filmkan dengan review yang saya liat sih lumayan. Kapan hari saya juga pernah baca review bukunya, lumayan juga. Meski begitu, saya belum tertarik buat baca atau nonton, sampai beberapa hari yang lalu saya menemukan kutipannya di tumbrl, dan itu cukup membuat saya tertarik sampai dan mulai membaca buku ini. Setelah membaca sekitar seperempat isi buku, saya sudah agak jengah. Haduh. Pemilihan diksi dan gaya berceritanya cukup menganggu saya. Terkesan kaku. Patah-patah. Penulis juga melemparkan beberapa lelucon yang menurut saya tidak lucu. Tapi rasanya tidak adil mereview padahal belum selesai baca. Nah, karena saya udah selesai baca, dan udah nonton juga, mari kita ulas. Buku ini, menurut saya, sebenarnya sangat potensial untuk menjadi buku yang sangat bagus. Bercerita tentang Pak Gunawan, seorang ayah dari dua anak, Satya dan Cakra (Saka). Pak Gunawan mengidap kanker dan ia hanya punya sisa...

Asam Manis Hidup Seorang Gap Year-er (1)

Sejak satu testimonial saya nangkring di zenius blog, hampir tiap tahun saya mendapat dm instagram dari teman-teman yang juga gap year. Mereka nanya banyak hal, tapi biasanya sih template. Apa yang saya lakukan selama gap year, gimana belajarnya, gimana ngatur waktu, gimana meyakinkan orang tua, dan sebagainya. Biar berfaedah dan ga menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, saya akan mencoba menjelaskan a.k.a bercerita a.k.a numpang curhat tentang apa-apa aja sih yang saya lakukan selama gap year. Tulisan ini juga dalam rangka pengkuan dosa berikutnya serta merayakan kegagalan. Mengingat saya juga ga bentar gap yearnya (2 tahun) dan kebiasaan saya yang ga bisa berhenti cerita. Tulisan ini mungkin akan sangat panjang. Meskipun yang diceritakan ya bagian bagian gagalnya saja. Karena memang kegagalan lah yang mendominasi hidup saia wkwk. Oke. Mari kita mulai. (Btw, testimonial saya itu bisa dibaca disini ) Awalan Saya menghabiskan masa putih abu-abu saya di salah satu smk neger...

Ngomongin IPK dari Maba hingga Semester Tua

"IPK itu bukan menunjukkan kita pinter atau engga, tapi nunjukkin kita bertanggung jawab ga dengan kuliah kita" - Mas Mas XL Future Leader yang saya lupa namanya Sebelum ngomongin IPK, nilai, atau deretan angka lainnya yang membuat kita sebagai pelajar atau mahasiswa merasa sia-sia atau sering merasa bodoh jika tidak mencapai standar. Saya ingin bercerita lebih jauh kebelakang tentang bagaimana perjalanan saya memandang nilai. Dulu semasa sekolah, saya dikenal sebagai siswa yang pinter. Sering juara kelas. Para penunggu bangku depan di kelas yang kalau guru lupa ada pr selalu saya ingatkan haha. Iya. Saya tipe anak kesayangan guru tapi menyebalkan bagi teman sekelas. Caper kata mereka. Mentang mentang pinter. Saya sih bodo amat. Lah saya merasa benar kok. Singkatnya, saya adalah orang yang amat perfeksionis urusan nilai. Pernah sekali saya nangis karena ga dapet nilai sempurna padahal nilai saya udah paling tinggi sekelas dan satu satunya ga remedial wkwk parah banget dah...