Postingan

Nikmat Teman Baik

UI "maka nikmat teman baik mana yang kamu dustakan?" Kalimat di atas pertama kali saya dengar (sebetulnya baca) dari seorang blogger, dia pernah menulis di blog pribadi juga d i caption Instagram-nya tentang betapa bersyukurnya ia dikelilingi oleh teman-temannya. Pertama kali membacanya saya hanya tersenyum, menyadari kebenaran ucapannya. Namun tidak lantas serta merta merasa demikian, biasa saja. Lalu akhir semester lalu, ketika akun grup-grup kelas dan grup angkatan heboh dengan nilai-nilai yang muncul di akun akademik masing-masing saya mulai menyadari kebenaran konstektual kalimat itu. Saya merasakannya. Teman-teman yang katakanlah sering menghabiskan waktu bersama saya dan sering meminta bantuan atau diminta bantuan mengontak saya, mengabarkan banyak hal yang tidak saya ketahui, karena waktu itu posisi sedang mudik dan gadget yang tidak memadai. Saya takjub betapa baiknya mereka pada saya, betapa pedulinya mereka pada saya. Dua tahun saya berjuang sendirian, lupa ba...

Like

Time flying so fast. Betapa kita terus tumbuh dan menua. Seiring bergantinya hati, orang-orang bergerak maju dan berubah. Menapaki anak-anak tangga yang lebih tinggi. Melangitkan kesekian doa-doa baru, menerbangkan kesekian mimpi-mimpi baru. Aku, baru menapaki anak tangga pertama.   -ditulis hari ini, setelah sebuah video-call-    ketika tersadar betapa lamanya aku jalan di tempat

Ramai

Ramai. Ruangan ini selalu ramai. Celoteh riang, obrolan ringan, wajah-wajah bahagia, meski kadang juga tampak lelah. Tawa lepas kadang-kadang terdengar, membuat kepala-kepala tertoleh mencari sumber suara. Meski tak ada sebetulnya yang merasa terganggu. Seruan-seruan sebal juga seringkali muncul, tapi itu justru symbol keceriaan, khas persahabatan yang solid.   Tatapan mereka hidup. Mata mereka berkilauan, seperti gugusan langit malam yang penuh bintang. Dari mata mereka aku tau, dunia mereka penuh warna.   Laksana ice cream, manis dan warna-warni. Ramai. Ini yang mereka sebut keramaian. Dia ada di antara mereka, didalam keramaian. Sendirian dalam makna hakikat, bukan harfiah. Matanya tidak berkilauan, mendung menggelayut di kedua matanya, tatapannya kelabu. Serupa ice cream yang mencair, tidak lagi menyenangkan menatapnya. Hitam putih diantara pelangi berkilauan. Desau angin bahkan terdengar merdu bagi dia yang merasa sendirian. Hatinya kosong, perasaannya usang. D...

Definisi Menulis

Senin kemarin-tidak benar-benar kemarin sebetulnya-salah satu agenda terjadwal sedang menanti saya. Agenda rutin komunitas yang mulai kembali berjalan setelah libur panjang semester lalu. Pertemuan kali ini adalah materi tentang bagaimana menulis essay, diisi oleh seseorang yang katakanlah cukup ahli dalam bidang essay dan karya tulis ilmiah-meski yang bersangkutan selalu menolak untuk dikatakan expert - to be honest, saya sangat excited untuk melahap materi ini, mengingat sudah lama sekali saya ingin menjadi penulis yang "serius", yang tidak hanya menulis fiksi tapi juga mampu menulis solusi. Materi kali itu diawali dengan sebuah pernyataan singkat dari Kak Pemateri, "Temukan definisi menulis bagi diri kalian, temukan untuk apa kalian menulis karena itu akan menjadi motivasi kalian dalam menulis. Bagi kakak pribadi menulis essay khususnya, adalah salah satu cara untuk jalan-jalan gratis, disamping tentu saja untuk menambah prestasi dan mengisi CV", -redaksinya mu...

Adik Rasa Kakak

Hari minggu kemarin, ditengah salah satu agenda terjadwal yang sedang saya ikuti.. disaat bahkan pematerinya masih bicara.. sekitaran jam 11 lewat, tiba-tiba saya teringat Abel, adek tertua saya yang tinggal terpisah kota. Saya teringat obrolan kami di telepon beberapa hari sebelumnya, Abel cerita bahwa hari minggu itu dia berangkat ke kota tempat saya tinggal untuk mengikuti salah satu event lomba yang diadakan salah satu sekolah menengah di kota yang saya tinggali. Detik itu saya mendadak teringat padanya, lantas bergegas mengirimkan sebuah sms singkat yang memastikan keberadaan Abel. Sms itu berbalas sebuah panggilan telepon setengah jam kemudian -ditengah berjamuran sosial media, saya dan adek justru memilih cara konvesional, sms-telpon-. Dari obrolan yang (juga) singkat ditelepon itu, disepakati bahwa saya akan nyusulin dia di sekolah yang dimaksud, ba'da zuhur berangkat. Abel adalah salah satu dari tiga adek saya yang semuanya laki-laki. Saat ini ia sedang menjejak kelas sa...

Nikmat

Akhir-akhir ini banyaaaaak sekali nikmat-nikmat yang rasanya kurang disyukuri. Keping-keping nikmat yang lupa dipeluk, cinta yang kurang disyukuri. Karena barangkali Allah tahu, hati kita masih dipenuhi urusan dunia... masih dipenuhi rasa baper dan galau tak berkesudahan.

Menghela Nafas

3 hari ini keadaan berbalik sudah, akhir pekan yang ku rencanakan akan indah malah berakhir berbeda. Banyak sekali hal yang membuatku menghela nafas lebih berat dan lebih panjang, sekelebat mata semua kejadian ini terjadi.. menyisakan sesak dan sakit yang tertahan. Ingin sekali menumpahkan segalanya pada blog ini, memeluk keping-keping hati. Tapi rasa-rasanya aku hanya mampu menghela nafas, lagi dan lagi. Menghalau sesak dan menyembuhkan sakit. "semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja"