Postingan

Jeda

Jeda cukup panjang sejak 2016 hingga sekarang. Sejak satu singkat pesan terakhir masuk ke gawai yangg mampu menciptakan seulas senyum bagi pembacanya. Jeda yang cukup panjang, sejak terakhir aku menunggu dengan cemas tiap getar gawai, menunggu kabarmu. Jeda yang juga cukup panjang, sejak hari dimana aku berdiri sambil memperhatikan laju waktu yang terasa lambat. Berharap sesosok punggung muncul dihadapan. Meski tidak terihat dan melihat, ada satu lega saat memastikan ia baik saja. Jeda yang cukup panjang.. mengingat satuan kita adalah tahun, bukan hari Hari ini, aku merasa kecil. Tidak seperti hari-hari lalu dimana aku merasa dipaksa dewasa. Dimana rasanya aku menukar masa remajaku dengan air mata. " Berat sekali kehidupan ini, Tuhan" keluhku hari itu.Menghidupi fisik sekaligus bertahan agar mimpi tetap menyala. Lalu tertatih saat ia tiba, menyesuaikan jiwa usangku dengan warna-warni kehidupan millineals. Hidupku monokrom. Hitam putih saja. Tembok-tembok tebal dan tinggi ...

Kembali

Mengecek blog. Apakah sudah berdebu setelah ditinggalkan bertahun-tahun? I do miss u, blog. Kamu tetap tempat menepi paling tepi, tempat menyendiri paling sunyi, dan tempat kembali paling nyaman dari hingar bingar Instagram dan sosial media. Kemarin, maksudku tahun lalu tentu saja. Aku tidak banyak menulis. Duniaku teralihkan pada sisi lain dari kehidupan. Tidak buruk. Tapi tidak juga terlalu baik. Sebagian besar kuhabiskan di Instagram, entah.. mungkin aku sedang menikmati menjadi bagian dari keramaian, meski akhirnya aku tau.. aku tidak pernah cocok dalam kehidupan glamour dan gemerlap itu. Lalu awal tahun ini, kuputuskan kembali menulis. Hey, bagaimana aku bisa meninggalkan dunia yang kalau saja bisa, sudah kujadikan jalan hidupku. Hanya saja. Lagi-lagi aku memilih Instagram sebagai tempat menulis kembali. Mungkin aku masih menikmati kemegahan disana, masih menikmati terang benderangnya, masih menikmati menjadi bagian dalam keramaian, dan masih takut untuk terlalu berada di tepi l...

Apakah aku sudah mati?

Aku tidak sadar sebenarnya bagaimana waktu sudah amat cepat melaju. Seperti misalnya menyadari bahwa masa putih abuku sudah lewat lama sekali dan masa kuliahku juga masih sangat lama. Atau seperti sekian banyak undangan pernikahan dari teman-teman. Aku baru menyadari bahwa sekian banyak dari mereka sekarang bergelar ibu. Tahun-tahun ini aku banyak sekali kehilangan. Nikmat yang satu ini nampaknya mencerabut nikmat lainnya. Aku tau, apalah arti memiliki jika bahkan diri kita bukan milik kita dan apalah arti kehilangan ketika kita justru menemukan banyak saat kehilangan dan kehilangan banyak saat menemukan. Saat ini aku kehilangan banyak tanpa menemukan. Kehilangan mimpi, kehilangan harapan, kehilangan idealisme, dan kehilangan diri sendiri. Aku sudah berhenti bertanya. Bukan karena aku menemukan banyak jawaban tapi karena aku justru kehilangan banyak pertanyaan. Merasa seperti nuraniku lumpuh. Aku tidak bisa merasa. Kemana pedangku? Apakah aku sudah terbunuh? Sekarang hidupku jauh le...

Sore dan Senja

Aku tidak menyangka bahwa aku akan jatuh dan terpuruk lagi. Aku tidak menyangka bahwa aku akan merasakan sakit yang sama lagi. Bahkan kali ini lebih sakit. Aku tidak menyangka bahwa yang membuat air mataku berderai kali ini tidak hanya kamu, tapi juga orang serupa kamu. Aku mempertanyakan sekian banyak "kenapa". Dan aku membenci apa-apa yang sudah terjadi dan membuatku menangis lagi. Oh Tuhan, sudah lama sekali aku tidak menangis lalu sekarang aku menangis hanya karena sepotong sore dan senja. Kenapa aku tidak belajar dan tidak lekas dewasa? Aku sama saja seperti 8 tahun yang lalu. Bodoh dan naif. Kalau kita tidak bisa tertawa karena lelucon  yang sama kenapa aku berkali-kali menangis dengan alasan yang sama? Aku benar-benar sakit. Sakit sekali. Aku membenci segala sesuatu yang tampak dan ada. Aku membenci sepasang senja dan sore. Hey kenapa kalian tidak ingin lagi jadi temanku? Kenapa sore? Kenapa kau justru menyajikan kisah yang amat menyakitkan? Padahal memandang lang...

?

Semacam percakapan usang yang dirindukan. Heu. Udahlah, sha. Move On.

Berjalanlah, Sha.

Berjalanlah, sha. Tempuh tempat-tempat yang ingin kau kunjungi. Berjalanlah meski diatas pasir, tanah, bebatuan, aspal, rumput atau bahkan air. Berjalanlah, sha. Berjalan meski harus tertatih atau merangkak. Berjalan meski harus beramai-ramai atau sendirian. Berjalan meski gelap atau terang. Berjalanlah, sha. Berjalan seperti yang kau lakukan waktu itu. Berjalanlah seperti waktu yang tidak pernah berhenti berdetak. Berjalanlah seperti detak jantungku, hanya berhenti ketika mati. Hey, sha. It's Okay. It's always okay. You're happy. You're always happy, right? :") Hey, sha. I just missing u. #monolog #dialogsebelahtangan

Dear

Halo, apa kabar? Lama sekali kita tidak saling menyapa. Lama sekali kita bahkan tidak saling bertanya. Terakhir, Juli tahun lalu ya? :) Bagaimana kuliahmu? Sudah semester akhir ya, bersiap untuk skripsi. Bahkan mungkin sebentar lagi akan wisuda. Selamat. Mimpi yang dulu sering kau ceritakan satu per satu mulai terwujud. Harus kuakui, kau benar-benar berada di tempat yang tepat. Dengan kemampuan yang kau miliki, bukan tidak mungkin kau benar-benar akan menjadi seperti yang kau katakan dulu, keponakan Bill Gates! Ngomong-ngomong masalah mimpi, ingatkah bahwa sejak kecil aku pengen jadi guru? Sekarang aku sudah jadi guru, guru ekonomi pula. Aku ingat betapa herannya kau saat ku bilang mimpi yang satu itu. Kak, apakah kau tahu? Kak, ku kira setelah aku mematahkan jarak, aku akan kembali menjadi temanmu. Tapi kita punya sesuatu yang lebih kejam daripada jarak, yaitu waktu. Waktu benar-benar telah membunuh dan menciptakan ruang hampa diantara kita. Kak, Tahukah? Aku mulai mengerti apa...